Kamis, 13 Oktober 2016


Mengulang memori lama...

Cuacanya kurang lebih sama seperti sore ini. Mendung, Hujan. Kala itu saya sedang di balairung. Tidak seperti hari - hari lainnya. Hari itu merupakan hari yang spesial. Banyak raut kebahagiaan di tempat itu. Masing - masing dari kita, para wisudawan/wati berkumpul bersama orang yang spesial, mengukir kenangan. Termasuk saya.

Masih jelas dalam ingatan saya, 2 orang perwakilan dari kami para mahasiswa melantunkan lagu "Andai aku t'lah Dewasa milik Sherina'. Begitu mengena. Entah mengapa jika berhubungan dengan hal-hal yang menyangkut kedua orang tua, saya begitu perasa. Ditambah lagi suasana balairung saat itu benar-benar memunculkan kembali masa-masa saya pertama kali masuk UI, menjadi mahasiswa baru. Banyak memori yang bermunculan saat itu. 

Saat itu memang sedang Hujan. Kedua orang tua saya masih menunggu di samping balairung bersama para orang tua yang lain. Terkadang luapan emosi yang berkesan bukanlah dari tawa, maupun canda yang diekspresikan. Masih terekam dengan jelas dalam ingatan saya, saat itu acara wisuda sudah selesai. Ibu saya masuk ke dalam balairung mencari saya. Ketika kami bertemu bukanlah luapan tawa yang beliau tunjukkan namun tangis. Ibu saya memeluk saya dan menangis. Bukan menangis tersedu - sedu melainkan luapan kebahagiaan yang disertai dengan air mata. Pertama kali dalam hidup saya menangkap ekspresi ibu yang seperti itu. Saya benar-benar ingin merasakan kembali momen itu. Saya mendapatkan pelajaran bahwa kebahagiaan yang benar - benar tulus itu dapat kita contoh dari kedua orang tua kita.

Semoga kita senantiasa dilimpahkan kesehatan. Bapak, Ibu, fakhri & Indra. Karena nikmat yang terpenting selain Iman dan Islam adalah  kesehatan. Semoga kita kelak dapat kumpul bersama - sama kembali di surga-Nya. Karena mau tidak mau, suka atau tidak, kita pasti akan kembali. 


Dok: Balairung, 27 Agustus 2014



Senin, 10 Oktober 2016

Amalan-amalan pada Bulan Muharram


Bismillahirrahmanirrohim

Kali ini saya akan mereview materi liqo yang disampaikan oleh Pak Suki pekan kemarin sekaligus meringkas buku yang dibagikan oleh beliau. Buku ini berjudul "Muharram dan Asyuro, hukum dan pelajaran di dalamnya", disusun oleh Abdullah Haidir.

Seperti yang kita ketahui, kita telah melalui pergantian tahun hijriyah dari 1437 H menjadi 1438 H. Dengan adanya pergantian tahun ini, itu artinya kita telah memasuki bulan Muharram. Kalau orang jawa mungkin lebih familiar dengan istilah bulan suro, mungkin istilah suro ini terinspirasi dari kata Asyura -> syura -> suro. Padahal Asyura sendiri bermakna kesepuluh. Jadi tidak salah jika hari Asyura atau puasa Asyura memang jatuh pada hari ke -10 bulan Muharram.

Lalu sebenarnya bagaimanakah kedudukan Bulan Muharram ini?
Mengapa Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama tahun hijriyah?

Dalam buku Muharram & Asyura yang disusun oleh Abdullah Haidir ini, Bulan Muharram termasuk bulan yang dimuliakan (Al-Asyhurul Hurum) selain tiga bulan yang lainnya, yaitu DzulQoidah, Dzul Hijjah dan Rajab. 
Kemuliaan keempat bulan ini dijelaskan dalam QS. At-Taubah ayat:36. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram. itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu,,"

 Pada bulan Muharram ini Allah menekankan kepada kita agar tidak melakukan perbuatan aniaya (az zulm). Az zulm ini sendiri terdapat 2 penafsiran.
Pertama: Berperang. Maksudnya tidak boleh berperang pada bulan-bulan yang diharamkan tersebut.
Kedua: Berbuat maksiat dan dosa. Namun hal ini bukan berarti kita diperbolehkan untuk melakukan hal tersebut pada bulan - bulan lainnya. 
Dikhususkannya larangan maksiat ini menunjukkan kemuliaan dan keagungan bulan Muharram ini dibandingkan bulan-bulan yang lainnya. Nama Muharram pun berasal dari kata Harrama - Yuharrimu yang artinya diharamkan.

Lalu mengapa Bulan Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama di tahun Hijriyah?

Banyak yang mengira penetapan bulan Muharram sebagai bulan pertama tahun Hijriyah adalah bedasarkan peristiwa Hijrah Rasulullah SAW ke Madinah pada bulan itu, namun perkiraan ini keliru karena Rasulullah SAW memulai perjalanan hijrah pada akhir bulan shafar dan tiba di Madinah pada awal bulan Rabi'ul Awal.

Memang benar bahwa peristiwa Hijrah yang menjadi patokan untuk memulai penanggalan Hijriyah, namun penetapan Muharram sebagai awal bulan tahun Hijriyah adalah karena alasan yang lain. 

Jawabannya adalah karena beberapa hal, yaitu:
1. Bulan Muharram disepakati sebagai awal bulan pada tahun Hijriyah karena pada bulan ini kaum muslimin telah pulang dari melaksanakan ibadah haji yang merupakan akhir dari rukun Islam. 
2. Bulan Muharram dianggap sebagai awal dari keinginan Hijrah.

Kedua hal diataslah yang mendasari penetapan Muharram sebagai bulan pembuka di tahun Hijriyah.
Apakah Amalan penting yang terdapat pada Bulan Muharram ini?

Di bulan Muharram ini kita mengenal hari Asyura, ya pada hari ini terdapat sebuah sunnah yang dianjurkan Rasululllah SAW untuk kita laksanakan sebagai bentuk ibadah dan ketundukan kepada Allah SWT. kita mengenalnya dengan puasa Asyura. Asyura yang berasal dari kata Yaumu 'Asyuro yang berarti sepuluh. Itulah mengapa puasa Asyura ini kita laksanakan di hari ke -10 bulan Muharram.
Dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda: 
"Adapun puasa hari 'Asyura, aku berharap kepada Allah menjadi penghapus dosa selama setahun sebelumnya"

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, dia berkata " Ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyuro dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa sahabat berkata, ' Ya Rasulullah! ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nashrani,' maka Rasulullah SAW bersabda: " Jika (bertemu) tahun depan, Insya Allah, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (bulan Muharram)." (shahih muslim, kitab Ash - Shiyam, no. 133 - (1134))
Namun ternyata pada tahun depannya rasulullah SAW sudah wafat. 
Oleh karena itu kita mengenal adanya puasa tanggal 9 Muharram yang lebih kita kenal dengan nama puasa Tasu'a.

Jadi besok (10 Oktober 2016) adalah tanggal 9 Muharram di kalender Hijriyah dan lusa adalah tanggal 10 Muharram atau hari Asyura. Maka kedua hari tersebut merupakan kesempatan kita untuk berpuasa dan mengikuti anjuran Rasulullah SAW. 

Berbagai bentuk Bid'ah pada Hari Asyuro

Ketika hari Asyura tiba, kita banyak melihat baik dari media elektronik maupun media - media yang lain mengenai acara, ritual ataupun aktivitas - aktivitas bid'ah yang diadakan dalam memperingati hari Asyura, diantaranya adalah:

- Memperingati Hari Kematian Husein ra
Peristiwa tersebut memang sangat tragis dan menimbulkan rasa sedih yang sangat mendalam bagi yang membaca kisahnya. Apalagi terhadap orang yang dicintai oleh Rasulullah SAW. Kita pun sebagai umat-nya tentu mencintai dan memuliakannya. Namun betapapun kita sangat mencintai keluarga Rasulullah bukan menjadi alasan untuk bertindak dan melanggar ajaran Allah SWT sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Syiah pada peristiwa Asyura.
- Peringatan Sukacita (menghidangkan makanan, berpakaian dan belanja kebutuhan pada hari itu secara berlebihan)

- Berbagai bentuk Adat & Ritual di Tanah air, seperti: Meminta berkah kepada benda-benda yang dianggap sakti, cuci pusaka, dan lain - lain. 

Puasa Tasu'a dan Puasa Asyura berdekatan dengan puasa Ayyamul Bidh. Jadi bisa disebut pada pekan ini adalah pekan puasa, dimana kita diberikan kesempatan untuk berpuasa, melaksanakan anjuran Rasulullah SWT, mendapatkan pahala dan ampunan dosa selama setahun penuh pada tahun sebelumnya. Semoga kesempatan ini tidak dilewatkan.

Wallahu A'lam Bishawab