Amalan-amalan pada Bulan Muharram
Bismillahirrahmanirrohim
Kali ini saya akan mereview materi liqo yang disampaikan oleh Pak Suki pekan kemarin sekaligus meringkas buku yang dibagikan oleh beliau. Buku ini berjudul "Muharram dan Asyuro, hukum dan pelajaran di dalamnya", disusun oleh Abdullah Haidir.
Seperti yang kita ketahui, kita telah melalui pergantian tahun hijriyah dari 1437 H menjadi 1438 H. Dengan adanya pergantian tahun ini, itu artinya kita telah memasuki bulan Muharram. Kalau orang jawa mungkin lebih familiar dengan istilah bulan suro, mungkin istilah suro ini terinspirasi dari kata Asyura -> syura -> suro. Padahal Asyura sendiri bermakna kesepuluh. Jadi tidak salah jika hari Asyura atau puasa Asyura memang jatuh pada hari ke -10 bulan Muharram.
Lalu sebenarnya bagaimanakah kedudukan Bulan Muharram ini?
Mengapa Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama tahun hijriyah?
Dalam buku Muharram & Asyura yang disusun oleh Abdullah Haidir ini, Bulan Muharram termasuk bulan yang dimuliakan (Al-Asyhurul Hurum) selain tiga bulan yang lainnya, yaitu DzulQoidah, Dzul Hijjah dan Rajab.
Kemuliaan keempat bulan ini dijelaskan dalam QS. At-Taubah ayat:36. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram. itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu,,"
Pada bulan Muharram ini Allah menekankan kepada kita agar tidak melakukan perbuatan aniaya (az zulm). Az zulm ini sendiri terdapat 2 penafsiran.
Pertama: Berperang. Maksudnya tidak boleh berperang pada bulan-bulan yang diharamkan tersebut.
Kedua: Berbuat maksiat dan dosa. Namun hal ini bukan berarti kita diperbolehkan untuk melakukan hal tersebut pada bulan - bulan lainnya.
Dikhususkannya larangan maksiat ini menunjukkan kemuliaan dan keagungan bulan Muharram ini dibandingkan bulan-bulan yang lainnya. Nama Muharram pun berasal dari kata Harrama - Yuharrimu yang artinya diharamkan.
Lalu mengapa Bulan Muharram ditetapkan sebagai bulan pertama di tahun Hijriyah?
Banyak yang mengira penetapan bulan Muharram sebagai bulan pertama tahun Hijriyah adalah bedasarkan peristiwa Hijrah Rasulullah SAW ke Madinah pada bulan itu, namun perkiraan ini keliru karena Rasulullah SAW memulai perjalanan hijrah pada akhir bulan shafar dan tiba di Madinah pada awal bulan Rabi'ul Awal.
Memang benar bahwa peristiwa Hijrah yang menjadi patokan untuk memulai penanggalan Hijriyah, namun penetapan Muharram sebagai awal bulan tahun Hijriyah adalah karena alasan yang lain.
Jawabannya adalah karena beberapa hal, yaitu:
1. Bulan Muharram disepakati sebagai awal bulan pada tahun Hijriyah karena pada bulan ini kaum muslimin telah pulang dari melaksanakan ibadah haji yang merupakan akhir dari rukun Islam.
2. Bulan Muharram dianggap sebagai awal dari keinginan Hijrah.
Kedua hal diataslah yang mendasari penetapan Muharram sebagai bulan pembuka di tahun Hijriyah.
Apakah Amalan penting yang terdapat pada Bulan Muharram ini?
Di bulan Muharram ini kita mengenal hari Asyura, ya pada hari ini terdapat sebuah sunnah yang dianjurkan Rasululllah SAW untuk kita laksanakan sebagai bentuk ibadah dan ketundukan kepada Allah SWT. kita mengenalnya dengan puasa Asyura. Asyura yang berasal dari kata Yaumu 'Asyuro yang berarti sepuluh. Itulah mengapa puasa Asyura ini kita laksanakan di hari ke -10 bulan Muharram.
Dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah bersabda:
"Adapun puasa hari 'Asyura, aku berharap kepada Allah menjadi penghapus dosa selama setahun sebelumnya"
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, dia berkata " Ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyuro dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa sahabat berkata, ' Ya Rasulullah! ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nashrani,' maka Rasulullah SAW bersabda: " Jika (bertemu) tahun depan, Insya Allah, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (bulan Muharram)." (shahih muslim, kitab Ash - Shiyam, no. 133 - (1134))
Namun ternyata pada tahun depannya rasulullah SAW sudah wafat.
Oleh karena itu kita mengenal adanya puasa tanggal 9 Muharram yang lebih kita kenal dengan nama puasa Tasu'a.
Jadi besok (10 Oktober 2016) adalah tanggal 9 Muharram di kalender Hijriyah dan lusa adalah tanggal 10 Muharram atau hari Asyura. Maka kedua hari tersebut merupakan kesempatan kita untuk berpuasa dan mengikuti anjuran Rasulullah SAW.
Berbagai bentuk Bid'ah pada Hari Asyuro
Ketika hari Asyura tiba, kita banyak melihat baik dari media elektronik maupun media - media yang lain mengenai acara, ritual ataupun aktivitas - aktivitas bid'ah yang diadakan dalam memperingati hari Asyura, diantaranya adalah:
- Memperingati Hari Kematian Husein ra
Peristiwa tersebut memang sangat tragis dan menimbulkan rasa sedih yang sangat mendalam bagi yang membaca kisahnya. Apalagi terhadap orang yang dicintai oleh Rasulullah SAW. Kita pun sebagai umat-nya tentu mencintai dan memuliakannya. Namun betapapun kita sangat mencintai keluarga Rasulullah bukan menjadi alasan untuk bertindak dan melanggar ajaran Allah SWT sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Syiah pada peristiwa Asyura.
- Peringatan Sukacita (menghidangkan makanan, berpakaian dan belanja kebutuhan pada hari itu secara berlebihan)
- Berbagai bentuk Adat & Ritual di Tanah air, seperti: Meminta berkah kepada benda-benda yang dianggap sakti, cuci pusaka, dan lain - lain.
Puasa Tasu'a dan Puasa Asyura berdekatan dengan puasa Ayyamul Bidh. Jadi bisa disebut pada pekan ini adalah pekan puasa, dimana kita diberikan kesempatan untuk berpuasa, melaksanakan anjuran Rasulullah SWT, mendapatkan pahala dan ampunan dosa selama setahun penuh pada tahun sebelumnya. Semoga kesempatan ini tidak dilewatkan.
Wallahu A'lam Bishawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar